Walau Era Globalisasi, Jati Diri Bangsa
Harus Tetap Ada
Globalisasi sangat berpengaruh pada
kehidupan masyarakat Indonesia. Pengaruh yang berhubungan dengan kehidupan,
baik dari segi ilmu pengetahuan, teknologi, sosial budaya, serta bahasa
sehari-hari dalam masyarakat. Seiring berjalannya waktu, pengaruh-pengaruh
tersebut tentu akan membawa efek bagi kehidupan.
Pada
zaman sekarang, banyak orang terutama para anak muda kurang memperhatikan
penggunaan bahasanya ketika sedang bercakap–cakap dengan orang lain. Kata–kata
kasar yang tidak patut untuk dikeluarkan juga sering terlontar ketika sedang
berbicara. Parahnya, hal itupun sudah dianggap sebagai hal biasa oleh
kebanyakan orang. Para generasi muda mulai mengabaikan tata bahasa dalam
berbicara. Kesadaran mereka akan pentingnya menggunakan bahasa Indonesia yang
baik dan benar serta memilih kata–kata yang santun semakin menurun.
Menurut standar moral, norma, dan
nilai agama yang berlaku dalam masyarakat juga menyebabkan masyarakat kurang
memperhatikan kesantunannya dalam berbicara dengan orang lain. Selain itu,
faktor waktu dan tempat juga dapat merubah nilai–nilai kesantunan. Di tempat–tempat
yang taraf kehidupan penduduknya rendah, percakapan sehari-hari sering diselipi
kata–kata kurang etis (kasar). Di lingkungan yang penduduknya berpendidikan
tinggi dan taraf hidupnya tinggi, penduduknya juga sedikit yang menerapkan tata
bahasa yang baik dan benar. Para remaja sering kali terpengaruh oleh lingkungan
pergaulannya dan berdampak pada pola perilaku juga penggunaan bahasanya. Mereka
cenderung menggunakan bahasa yang mereka anggap keren dan bergengsi, meskipun
mengandung kata–kata kasar. Semula, budaya berbahasa yang baik, benar dan sopan
itu telah bergeser menjadi penggunaan bahasa informal, kurang santun bahkan
kasar oleh para remaja.
Menurunnya nilai kesantunan dan
ragam bahasa ini membuat resah bagi para pendengar disekitarnya yang memiliki
etika berbicara yang baik. Karena bagi mereka itu dianggap kurang pas ketika
didengarkan. Ketika bahasa sehari-harinya “Loe, Gue” sangat tidak etis apabila
berbicara dengan orang yang baru saja dikenal maupun dalam kegiatan formal
lainnya.
Diharuskan sejak dini kita membangun
rasa kesantunan berbahasa yang tinggi. Kita sebagai seorang terdidik harus
mencontohkan yang baik terhadap masyarakat. Jika kita bekerja, sekolah atau
sedang berbicara dengan orang yang lebih tua pasti kita di haruskan untuk
menggunakan bahasa yang lebih santun karena itu bersifat formal. Apabila kita
mengabaikan untuk tidak menggunakan bahasa yang santun, orang akan beranggapan
bahwa kita adalah orang yang tidak berpendidikan atau sebagai orang yang
kampungan tidak mengerti tata krama.
Bahasa
adalah sarana yang paling berpengaruh terhadap kehidupan kita di lingkungan
masyarakat. Sehingga secara tidak langsung kita dituntut untuk dapat memahami
dan mengerti apa bahasa yang baik untuk diterapkan. Bahasa disetiap lingkungan
daerah tentunya berbeda–beda. Tapi jika kita menengok lagi di daerah pedesaan
pastilah kita menemuai atmosfir–atmosfir ketradisionalan yang masih kental dan
enggan meninggalkan tradisinya, yaitu salah satunya bahasa Daerah. Namun dengan
hal itu, demi untuk menjalin persatuan, tentunya kita harus dapat menggunakan
bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Hilangnya
bahasa Indonesia dan bahasa Daerah kita dikarenakan kita sendiri yang tidak
pernah merawat dan menularkannya kepada generasi penerus. Dewasa ini bahasa
sendiri semakin hari semakin terkikis karena tanpa kita sadari kita menekan
keluar dan menggantinya dengan bahasa asing yang terus menerus masuk ke
lingkungan kita. Adapun faktor yang mempengaruhi hilangnya bahasa, yaitu
bimbingan orang tua yang sejak kecil mencetuskan dan mengajarkan pada anaknya
untuk berbicara bahasa asing, seperti bahasa Inggris sehingga tidak jarang
terkadang bahasa Indonesia pun ikut terpengaruh.
Peranan bahasa Indonesia dan bahasa
Daerah sangatlah penting, karena kepunahan bahasa sama dengan kepunahan
peradaban manusia secara keseluruhan. Menurut peneliti, di Indonesia ada 169
bahasa Etnis/Daerah yang terancam punah. Inilah fokus pada seminar Nasional yang betopik “Pengembangan dan
Perlindungan Bahasa, Kebudayaan Etnis Minoritas untuk Penguatan Bangsa”. Buktinya
banyak generasi muda yaitu generasi penerus bangsa kita yang enggan menggunakan
bahasa daerahnya sendiri, yang katanya malu jika memakai bahasa daerahnya. Ini
merupakan fakta yang tidak bisa dipungkiri lagi bahwa bangsa kita memang sudah
dibutakan oleh bahasa–bahasa gaul yang terlalu condong ke era globalisasi saat
ini.
Lalu bagaimana agar bahasa Indonesia
dan bahasa Daerah tetap lestari dan digunakan di negeri ini? Peran seorang ibu,
pendidik, serta lingkungan sekitar sangat jelas dalam mengajarkan keterampilan
berbahasa. Tidak usah mencari contoh jauh–jauh, kita sendiri bisa dan mengerti bahasa
Indonesia dan bahasa Daerah karena mungkin ibu kita kerap mengajak bercakap
dalam bahasa tersebut sejak kecil. Jika bertemu dengan orang etnis lain, kita
selalu menggunakan bahasa nasional, yakni bahasa indonesia sebagai jembatan
komunikasi.
Komentar
Posting Komentar